📖 Sinopsis Buku
Di usia tujuh puluh tahun, perjalanan hidup Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, S.H., M.H. bukan sekadar kisah tentang seorang tokoh bangsa, ahli hukum tata negara, akademisi, dan pemimpin lembaga. Ia adalah perjalanan panjang seorang insan yang tumbuh dari akar kesederhanaan, dibentuk oleh tradisi ilmu, ditempa oleh adab, dan dipanggil oleh zaman untuk mengabdi lebih luas kepada umat, bangsa, dan negara.
Buku “70 Tahun Prof. Jimly Asshiddiqie: Nyantri dan Membina YPI Al Azhar” hadir sebagai catatan historis tentang jejak kehidupan, pemikiran, pengabdian, dan kontribusi Prof. Jimly di lingkungan Yayasan Pesantren Islam Al Azhar. Buku ini diluncurkan bertepatan dengan ulang tahun beliau yang ke-70 pada Jumat, 17 April 2026, di Aula Buya Hamka, Masjid Agung Al Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. (Al Azhar)
Ada makna yang dalam pada kata “nyantri” dalam judul buku ini. Ia tidak hanya menunjuk pada proses belajar agama secara formal, tetapi juga pada proses pembentukan jiwa: belajar hormat kepada guru, menjaga adab kepada ilmu, merawat masjid, menyerap hikmah, dan menumbuhkan kesadaran bahwa kecerdasan harus selalu berjalan bersama ketawadhuan. Dalam perjalanan Prof. Jimly, Al Azhar bukan hanya ruang kelembagaan, melainkan rumah nilai; tempat ia mengenal kedalaman ilmu, kedisiplinan akhlak, dan semangat pengabdian.
Dari kisah sebagai santri, bahkan pernah menjadi marbot dan nyantri kepada Buya Hamka, tergambar sisi manusiawi Prof. Jimly yang tidak selalu tampak di panggung publik. Di balik reputasinya sebagai cendekiawan hukum dan tokoh nasional, ada perjalanan spiritual dan intelektual yang berakar pada masjid, pada guru, pada kebiasaan belajar, dan pada kesediaan melayani. Sisi inilah yang membuat perjalanan hidupnya tidak hanya penting untuk dicatat, tetapi juga layak diwariskan. (Al Azhar)
Sebagai tokoh hukum tata negara, Prof. Jimly dikenal luas dalam sejarah reformasi kelembagaan Indonesia. Ia merupakan founding Chief Justice Mahkamah Konstitusi pertama Indonesia periode 2003–2008, serta dikenal sebagai Professor of Constitutional Law di Universitas Indonesia. (Melbourne Law School) Namun dalam bingkai buku ini, kebesaran beliau tidak semata dilihat dari jabatan dan gelar, melainkan dari kesinambungan pengabdian: dari belajar, mengajar, membangun gagasan, hingga membina lembaga pendidikan, dakwah, dan sosial.
YPI Al Azhar sendiri memiliki sejarah panjang sebagai lembaga yang lahir dari cita-cita besar para tokoh Islam dan pemuka masyarakat sejak 7 April 1952. Dalam perjalanan panjang itu, Al Azhar berkembang bukan hanya sebagai institusi pendidikan, tetapi juga sebagai gerakan peradaban yang memadukan ilmu, iman, dakwah, pelayanan sosial, dan kebangsaan. (Al Azhar) Di dalam lanskap besar inilah Prof. Jimly hadir, bukan sebagai nama yang berdiri sendiri, melainkan sebagai bagian dari mata rantai perjuangan Al Azhar.
Sebagai Ketua Pembina YPI Al Azhar, Prof. Jimly membawa semangat agar lembaga ini tidak berhenti pada romantisme sejarah. Al Azhar harus terus bergerak, aktif, dinamis, progresif, dan relevan dengan kebutuhan zaman. Pendidikan tidak boleh hanya menghasilkan anak-anak yang pintar, tetapi juga generasi yang beradab, beriman, kreatif, mandiri, dan memiliki tanggung jawab kebangsaan. Dakwah tidak boleh berhenti sebagai seruan lisan, tetapi harus menjelma dalam karya nyata, pelayanan sosial, serta keberpihakan pada kemaslahatan umat.
Buku ini karena itu bukan sekadar biografi personal. Ia adalah cermin perjalanan seorang tokoh yang menautkan tiga medan pengabdian: keilmuan, keumatan, dan kebangsaan. Dari ruang akademik, Prof. Jimly memberi sumbangan pemikiran tentang konstitusi, demokrasi, hukum, dan tata negara. Dari ruang kelembagaan, ia ikut membangun etos organisasi yang tertib, visioner, dan berorientasi pada kemajuan. Dari ruang keumatan, ia terus mengingatkan bahwa kemajuan harus berpijak pada nilai Islam, keadilan sosial, dan kemuliaan akhlak.
Pada usia tujuh puluh tahun, perjalanan Prof. Jimly memberi pesan yang kuat: bahwa hidup yang bermakna bukanlah hidup yang hanya penuh pencapaian, tetapi hidup yang terus memberi manfaat. Jabatan dapat datang dan pergi, tetapi keteladanan akan tinggal. Gelar dapat dicatat dalam biodata, tetapi pengabdian akan hidup dalam ingatan banyak orang. Ilmu dapat mengangkat derajat seseorang, tetapi adab dan keikhlasanlah yang membuat ilmu itu menjadi cahaya.
Melalui buku ini, pembaca diajak mengenal Prof. Jimly secara lebih utuh. Bukan hanya sebagai tokoh negara, bukan hanya sebagai pakar hukum, bukan hanya sebagai Ketua Pembina YPI Al Azhar, tetapi sebagai pribadi yang menempuh jalan panjang dari ruang santri menuju ruang pembinaan umat. Dari masjid menuju panggung kebangsaan. Dari belajar kepada guru menuju membimbing generasi. Dari menerima nilai menuju mewariskan nilai.
Inilah kisah tentang seorang santri yang tidak berhenti belajar, seorang cendekiawan yang tidak berhenti mengabdi, dan seorang pembina yang tidak berhenti menanam harapan. Pada akhirnya, “Nyantri dan Membina YPI Al Azhar” adalah narasi tentang kesinambungan: kesinambungan ilmu, iman, adab, perjuangan, dan cinta kepada lembaga yang telah ikut membentuk arah hidupnya.
Semoga buku ini menjadi pengingat bahwa Al Azhar akan terus besar bukan hanya karena bangunannya, sekolah-sekolahnya, atau sejarahnya, tetapi karena nilai yang dijaga oleh orang-orang yang mencintainya. Dan dalam perjalanan itu, Prof. Jimly Asshiddiqie telah memberi teladan bahwa membina lembaga berarti membina manusia, membina umat, dan ikut membina masa depan bangsa.